Sate Ayam

“ Jangan buat aku jadi yang jahat disini ”

Kalimat itu menghancurkan raga dan jiwaku. Kubaca terus-menerus, membiarkannya membekas di hati yang rapuh. Bukankah aku yang jahat, sampai-sampai kau harus mengatakannya? Bukankah aku yang seharusnya disalahkan karena telah memaksamu sampai sejauh ini?

“Mau ngasih ke dia lagi?” ucap seorang teman, dengan nada yang entah bercanda atau menghina. Aku yangbaru saja selesai bermain PS saat itu, pikiranku langsung melayang padamu — pada semua yang telah kuberikan.

Boneka, tas, martabak, nasi goreng… entah kau makan atau kau buang, entah masih kau simpan atau sudah tak bersisa, aku tidak peduli. Aku hanya ingin bertemu denganmu, meski itu harus menjadi pertemuan terakhir.

“Sate ayam” entah darimana juga aku terpikirkan hal itu, perasaan ‘ingin bertemu’ yang sudah lama terpendam lagi-lagi muncul kepermukaan hati, Namun tidak penah ada hal-hal baik yang berjalan sesuai dengan keinginanku, tidak sempat bertemu denganmu, malah jadi kunjungan terakhirku kedepan pintu rumahmu.

Sate ayam yang seharusnya menusuk nusuk daging ayam malah menusuk nusuk hatiku, kemudian dibakar menggunakan arang, terbakar hingga hitam pahit dan tidak bisa dimakan, hati dan raga yang sebelumnya penuh rasa gembira seketika dipenuhi penyesalan dan penyesalan.

Pesan yang kubaca setelah sampai di rumah menjadi pesan terakhirku padamu. Kucurahkan segalanya dalam ketikan demi ketikan, agar kau mengerti. Agar aku sendiri paham bahwa aku hanya memaksakan perasaan ini. Memaksakan egoku. Tangis sunyi di kamar mandi malam itu terasa lebih berat daripada mengangkat beban 80 kg di gym.

Dan lebih sakit lagi, aku membuatmu merasa bersalah. Membuatmu merasa jahat, padahal seharusnya aku yang menanggung semua itu.

Nona, dirimu tidaklah salah, hanya saja akulah yang telah membuang abu pada hutan yang akhirnya membakar semua yang ada didalamnya.

Nona, dirimu tidaklah jahat, hanya saja akulah yang terlambat menyadari memberikan duri padamu sehingga kita berdua terluka tanpa diriku ini menyadarinya

Nona, tolong jangan salahkan dirimu, ini adalah salahku memaksakan ombak pada bendungan yang sudah rapuh sehingga membanjiri kotamu

Sate ayam yang kini kubenci sekaligus kucintai menjadi saksi. Membencinya, aku tak bisa. Mencintainya, sudah tak diterima. Mencari pengganti? Aku tak sanggup.

Bukan kau yang jahat. Akulah yang jahat di sini. Jika memang ada hukuman untukku, biarlah Tuhan yang memberikannya.


Inilah penyesalanku. Inilah kisah cintaku yang terakhir. Tak akan ada lagi yang lain. Semuanya telah habis… untukmu. 

Komentar